Desa Tenganan, Desa Adat Bali

ayu-tenganan-02Ketika diajak suami berwisata menjelajah Bali bagian timur, saya langsung cari informasi di internet dan melihat peta Bali. Di situ saya mengetahui tentang Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem, yang katanya masih mempertahankan budaya asli dan menjaga supaya tidak banyak mendapat pengaruh dari luar, mirip Desa Badui. Jadilah Desa Tenganan masuk ke dalam daftar tempat yang akan dikunjungi saat perjalanan ke Bali Timur nanti.

ayu-tenganan-03Saat perjalanan, kami memutuskan untuk mengunjungi Desa Tenganan di perjalanan pulang nanti. Sempat sedikit kesasar, tanya sana-sini, akhirnya sampaiĀ deh di lokasi. Memang lebih enak ke sana kalau ada pemandunya, karena bingung masuknya di sebelah mana. Maklum, ini desa betulan, bukan tempat wisata biasa yang gapura dan plang namanya besar.

Pemukiman di desa ini berpetak-petak lurus dari utara ke selatan dengan luas pekarangan yang sama. Keunikan bentuk bangunan dan pengaturan rumah penduduk yang berderet-deret ini, berujung pada sebuah pura desa tua, sangat berbeda dengan model perkampungan lainnya. Supaya bisa mendapat penjelasan lengkap tentang situasi dan kondisi di Tenganan, memang sebaiknya ditemani pemandu.

kehidupan masyarakat di Desa Tenganan

kehidupan masyarakat di Desa Tenganan

Rumah-rumah di sepanjang jalan bisa bebas dikunjungi. Biasanya di ruang depan tiap rumah, dipamerkan barang-barang kerajinan hasil karya si empunya rumah. Kalau waktunya pas, kita juga bisa melihat mereka sedang berkarya membuat kerajinan. Kita juga bisa membeli langsung kerajinan yang dipamerkan di tiap rumah. Bahkan jangan heran kalau pemilik kerajinan juga rajin menawarkan produk-produk kerajinannya. Harus siap dompet atau tebal muka menolak setiap tawaran.

pengrajin di Desa Tenganan

pengrajin di Desa Tenganan

 

motif geringsing pada pakaian upacara

motif geringsing pada pakaian upacara

Motif kain khas Desa Tenganan adalah motif Geringsing, yang biasanya digunakan saat upacara adat. Ada juga upacara ritual yang unik di Desa Tenganan, yaitu ritual Geret atau perang pandan, saat para pemuda desa menggelar pertarungan damai menggunakan seikat pandan. Dua laki-laki saling mengoreskan pandan-pandan tersebut ke tubuh lawan. Ritual ini dilakukan setiap bulan kelima, saat perayaan Hari Raya Sambah.

perang pandan

perang pandan

Entah kenapa, saya tidak merasakan istimewanya desa ini. Bisa saja karena tidak ada penjelasan memadai dari pemandu, sehingga tidak mengerti konsep adat dan budaya yang dipertahankan di Tenganan. Tapi yang saya rasakan, justru bentuk eksploitasi desa supaya menjadi desa wisata. Bagaimana rasanya turis bisa masuk ke rumah kita setiap hari dengan bebasnya, bukankah itu bentuk eksploitasi wisata?

koleksi kerajinan topeng

koleksi kerajinan topeng

Kemudian memasuki rumah-rumah dengan suguhan barang-barang kerajinan, rasanya seperti memasuki kios-kios di pasar yang menjual barang-barang kerajinan. Seakan-akan, judul ‘desa asli Bali’ hanya sebagai pemancing agar turis datang dan membeli barang-barang kerajinan yang dijual disana.

Mudah-mudahan penilaian saya salah, karena sedih rasanya kalau benar-benar itu yang terjadi. Biar bagaimanapun, Desa Tenganan tetap layak untuk dikunjungi. Apalagi kalau bisa melihat upacara adatnya yang konon tidak ditemukan di daerah-daerah lain di Bali.

Share

Incoming search terms:

  • baju adat bali laki laki
  • baju adat bali laki-laki
  • foto pakaian adat tenganan

One thought on “Desa Tenganan, Desa Adat Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>